Desa di Klaten Bagi-bagi THR ke Warga, Tiap KK dapat Rp400 Ribu

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Klaten, Jawa Tengah membagikan tunjangan hari raya (THR) kepada warganya. Setiap kepala family (KK) menerima duit sebesar Rp400 ribu.

Rupanya, ini bukan kali pertama desa tersebut bagi-bagi THR kepada para warga. Pasalnya, program pembagian THR sudah berjalan selama dua tahun terakhir.

Tahun ini, jumlah total duit nan disalurkan mencapai Rp297,6 juta untuk 744 KK. Kepala Desa Wunut Iwan Sulistya Setiawan menjelaskan sumber biaya tersebut murni dari pendapatan original desa (PAD), ialah dari pengelolaan lokasi wisata Umbul Pelem Water Park.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah dua tahun. PAD dari pengelolaan upaya Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) ialah wisata Umbul Pelem," tutur Iwan di kantornya, Selasa (2/4), dikutip dari detikJateng.

Iwan menjelaskan THR nan diberikan ke penduduk pada 2023 sebesar Rp300 ribu, sementara tahun ini naik menjadi Rp400 ribu per KK. Hal ini lantaran penerimaan original wilayah (PAD) juga naik pada tahun ini.

"PAD tahun ini Rp3,1 miliar dan tahun lampau Rp2,5 miliar. Semoga terus naik, kita punya angan jadi tahun depan bisa kita berikan THR Rp1 juta," imbuh Iwan.

Iwan menyampaikan buahpikiran awal pemberian THR untuk setiap family ini dimulai pada 2022. Terdapat 13 RT dan enam RW di desanya, nan selama ini menerima support langsung tunai (BLT) alias support sosial (bansos) dari pemerintah pusat.

"Kalau BLT sudah ada branded dari negara, bansos juga dari negara. Kita buat terobosan dengan THR, spontanitas support langsung untuk semua nan penduduk sini," ungkapnya.

Ke depan, Iwan mengungkap pemerintah desa (Pemdes) berencana untuk meningkatkan THR di nomor Rp1 juta. Namun, THR nan diberikan tak semuanya berbentuk duit tunai. Setengah dari nomor tersebut diberikan berupa tabungan investasi.

"(Pada) 2025 kita harapkan Rp1 juta. Separuhnya duit tunai, separuhnya investasi, jadi penduduk investasi tanpa keluar duit sehingga unit upaya nan ada milik bersama," jelasnya.

Pengelolaan lokasi wisata Umbul Pelem Water Park sendiri telah menjadi sumber PAD terbesar desa itu sejak 2016. Sebelumnya, desa tersebut berpendapatan mini nan hanya mempunyai biaya desa.

Bermodal nekat, pemdes mencoba mengubah lokasi wisata tersebut menjadi lokasi wisata air dengan konsep air alami namun modern. Meski awalnya banyak nan ragu lantaran kala itu sudah banyak lokasi wisata air nan besar.

"Awalnya pada ragu, perangkat desa apalagi BPD (Badan Permusyawaratan Desa) sempat ragu. Apalagi biaya nan saya alokasikan ke Umbul Pelem itu awalnya sampai 75 persen dari total biaya desa saat itu Rp 900 juta," tutur Iwan.

Keraguan tersebut akhirnya terjawab setelah PAD meningkat secara perlahan. Iwan merinci PAD pada 2018 sebesar Rp30 juta, kemudian 2019 Rp210 juta, pada 2020 Rp575 juta, namun sempat turun pada 2021 menjadi Rp253 juta.

"(Pada) 2022 menjadi Rp915 juta, tahun 2023 Rp2,5 miliar dan sampai Rp2024 ini sudah Rp3,1 miliar," katanya.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)